Blogger Tips and TricksLatest Tips For BloggersBlogger Tricks

Ahok: Transportasi Publik Berbasis Rel Ideal Untuk Jakarta


Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) terkait pembangunan proyek monorail (sumber: Istimewa)
Jakarta - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyatakan transportasi publik yang paling ideal diterapkan di Kota Jakarta adalah transportasi publik berbasis rel. Transportasi publik berbasis rel dinilai dapat mengatasi kemacetan lalu lintas di Ibu Kota. Karena mampu mengangkut penumpang dengan kapasitas yang cukup besar, lebih cepat, nyaman, aman dan biaya terjangkau. “Yang paling ideal ya transportasi publik berbasis rel lah. Kapasitas daya angkutnya banyak, lebih cepat karena nggak macet dan biaya perjalanannnya terjangkau,” kata Ahok seusai menjadi keynote speaker dalam Seminar "Mencari Model Pembangunan Infrastruktur Transportasi Publik Kota Jakarta" di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Kamis (26/6).
Transportasi publik berbasis rel yang harus dikembangkan di Jakarta adalah kereta rel listrik (KRL), light rapid transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT).
“Transportasi publik yang paling utama dikembangkan adalah KRL dan MRT. Untuk penghubung yang kecil-kecil, yang penumpangnya tidak terllau banyak itu biasanya pakai LRT. Makanya seluruh dunia tuh biasanya pakai kombinasi transportasi seperti itu. Baru kemudian ditambah bus,” ujarnya.
Kenapa bus tidak dijadikan sebagai tulang punggung transportasi publik, mantan Bupati Belitung Timur ini mengatakan ruang gerak bus terbatas dengan kondisi jalan dan arus lalu lintas yang ada.
Untuk meningkatkan pelayanan transportasi publik berbasis BRT ini, Pemprov DKI akan membeli lahan disekitar halte BRT. Lahan tersebut akan dijadikan park and ride, taman dan sebagian lagi lahan untuk pedagang kaki lima (PKL).
“Kami juga akan membeli tempat, tanah, gudang atau lahan orang yang deket halte bus. Untuk dijadikan park and ride, taman dan PKL. Baru setelah itu ada, kami akan lakukan pembatasan motor di Jakarta. Dan menambah jumlah bus tingkat gratis,” tuturnya.
Menurutnya, untuk penataan transportasi berbasis rel, Jakarta boleh mencontek Singapura. Negara ini memilih transportasi berbasis LRT atau monorel setelah membangun MRT. Karena monorel sebagai transportasi penunjang dari MRT.
Selain itu, jalur rel LRT atau monorel ini tidak bisa ditambah atau dirubah, karena relnya dijepit dengan beton. Sedangkan MRT, relnya seperti rel kereta rel listrik biasa.
“Kenapa Jakarta mau membangun LRT, meski MRT belum ada, karena sebenarnya Jakarta sudah punya MRT. Yaitu KRL yang sudah berjalan selama ini dikelola oleh PT KAI. KRL itu MRT juga lho,” tuturnya.
Sumber : www.beritasatu.com