Blogger Tips and TricksLatest Tips For BloggersBlogger Tricks

Jakarta Butuh Pusat

Berbeda dengan tahun sebelumnya, ada sesuatu yang “hilang” dalam kemeriahan perayaan hari jadi ke-487 Kota Jakarta yang jatuh pada 22 Juni. Tak ada lagi sosok Joko Widodo dalam pakaian kebesaran gubernur DKI Jakarta. Jokowi--panggilan popupernya--kini memang sudah nonaktif sebagai gubernur dan sedang bertarung menuju kursi RI 1 dalam pemilu presiden dan wakil presiden mendatang. Ia diusung empat partai koalisi di bawah pimpinan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Sayangnya, di tengah hiruk pikuk kampanye politik pilpres, perjuangan Jokowi menuju RI 1 ternyata masih juga dipersoalkan banyak orang. Pencapresannya pun tetap mengundang kontroversi. Sejumlah kalangan terus mempertanyakan, etiskah seorang gubernur, yang baru menjabat satu setengah tahun, meninggalkan tugasnya hanya untuk suatu jabatan yang lebih tinggi? Lalu, apa prestasi spektakuler Jokowi sehingga ia layak diusung sebagai capres?
Sah-sah saja orang berpandangan seperti itu. Ini negara demokrasi. Tapi, yang jelas, Jokowi tidak meninggalkan Jakarta. Ia, jika terpilih, meninggalkan jabatan gubernur DKI, bukan meninggalkan Jakarta. Dengan menjadi presiden RI, Jokowi justru ingin berbuat lebih besar untuk ibu kota negara.
Jika kelak terpilih menjadi orang nomor satu di republik ini, ruang geraknya untuk membangun Jakarta justru menjadi lebih luas dan lebih besar dibanding gubernur DKI. Lebih dari 60 persen penyebab kemacetan dan 70 persen penyebab banjir di Jakarta berada di bawah kewenangan pusat. Sebutlah 13 sungai yang menerjang Jakarta berada di bawah kewenangan pemerintah pusat.
Cukup beralasan Jokowi meninggalkan jabatan gubernur DKI Jakarta. Ini juga bukan urusan kesetiaan. Jokowi menegaskan, ia hanya setiap kepada konstitusi dan kehendak rakyat. Konstitusi tak melarang gubernur aktif mencalonkan diri menjadi presiden. Pencapresannya adalah kehendak rakyat seperti terlihat pada berbagai survei. PDIP sebagai parpol pun menjatuhkan mandat kepada dirinya. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan legawa menyerahkan "kendaraan" kepada dirinya.
Rakyat memilih Jokowi karena figur ini telah menorehkan sejumlah prestasi mentereng, entah ketika menjadi wali kota Solo selama hampir dua periode (2005-2010 dan 2010-2012), ataupun sebagai gubernur DKI Jakarta (2012-2014). Selama memimpin Kota Solo, Jokowi sukses menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Dia menciptakan kartu pintar dan kartu sehat untuk warga kota budaya itu. Dengan dua kartu tersebut orang-orang miskin dipermudahkan aksesnya untuk mendapatkan pendidikan yang memadai dan pelayanan kesehatan yang baik.
Saat menjabat wali kota, Jokowi sangat dekat dengan rakyat. Ia mendatangi warga, meresmikan gapura kelurahan hingga acara selamatan di lingkup rukun warga sekalipun. Ia bekerja dari aras terbawah sehingga mengerti dengan baik anatomi masyarakat. Jokowi nyaris tanpa jarak dengan warganya. Apa yang dikerjakannya itu kemudian booming dengan sebutan blusukan ketika menjadi gubernur DKI Jakarta.
Saat memimpin Jakarta bersama pasangannya, Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Jokowi berhasil membangun pola pikir para pegawai serta pejabat di lingkungan Pemprov DKI bahwa jabatan yang mereka sandang tidak lebih adalah sebagai pelayan masyarakat. Jokowi berhasil mengefisienkan anggaran pemerintahan yang kerap boros dan salah penggunaan atau korupsi.
Untuk Jakarta, Jokowi juga sudah mulai mengambil langkah-langkah besar dalam mengatasi banjir tahunan dengan pembuatan serta perbaikan waduk. Masih ada lagi sejumlah megaproyek yang diharapkan diteruskan di masa mendatang, antara lain, monorel, terowongan multifungsi, deep tunnel, penataan perkampungan kumuh, dan lain-lain.
Berbagai megaproyek yang dicanangkan demi Jakarta yang baru, modern, aman, nyaman, dan bersahabat, di atas, diyakini tak akan “mati” di tangan Pelaksana Tugas (PLT) Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Keduanya sudah menyatu dan seirama. Jadi, seandainya kelak Jokowi dipercaya rakyat untuk memimpin bangsa ini, dan Ahok kemudian ditetapkan sebagai gubernur definitif, itu adalah sebuah anugerah besar untuk Jakarta. Itulah hadiah terindah bagi Jakarta.
Pembangunan Jakarta yang baru dan berubah memang sudah semestinya demikian, tidak hanya ditentukan oleh para pimpinannya yang berkantor di Kebun Sirih (Balai Kota), tapi juga oleh pemerintah pusat, bahkan juga dari Istana. Pasalnya, ini menyangkut martabat tinggi yang disandang Jakarta: ibu kota negara, pusat pemerintahan, pusat bisnis/investasi dan perdagangan, pusat pendidikan, dan pusat peradaban. Dirgahayu Jakarta!